Permainan Pocong Yang Membahayakan Pengendara





Memang permainan ini sebenarnya hanya untuk iseng saja. Tapi kalau dimainkan di lokasi yang salah bisa membahayakan.

Misalnya saja di jalanan yang biasa dilewati kendaraan bermotor. Para pengendara sepeda motor yang tiba-tiba “ditemui” pocong ini tentu saja bisa kaget dan terpelanting dari motornya. Tak mengherankan bila polisi terpaksa turun tangan mengamankan orang-orang yang bermain-main dengan hantu pocong ini.

Permainan hantu pocong cukup popular di Surabaya. Acting para aktor pocong ini mampu mengocok adrenalin dan selalu membuat dag dig dug para pengguna jalan yang lagi apes bertemu si 'pocong'. Kalau ada korban yang lari terbirit-birit karena ketakutan, maka mereka yang yang menyaksikan permainan ini pun tertawa terpingkal-pingkal.

Terakhir, Sabtu 28/7 2012,  anggota Polsek Wiyung menangkap Fredo Setioxifano, warga Wisma Lidah Kulon. Bersama dengan dua tuyulnya, remaja 15 tahun ini menakut-nakuti pengguna jalan di sekitar Brantas Hilir, Wiyung, Surabaya.

"Kejadiannya sama persis dengan kasus pocong di Gayungan dan di Kenjeran setahun lalu," kata Prayogo, warga Krembangan, Surabaya.


Bagi warga Surabaya, tentu masih ingat kejadian di daerah Gayungan atau dengan aksi Bahrul Ulum, warga Kejawan Lor Gg III, Surabaya setahun lalu, tepatnya 23 Juli 2011. Pemuda 21 tahun itu, ditangkap anggota Polsek Kenjeran karena iseng menjadi pocong.

Kepada polisi, Bahrul mengaku sudah menjadi pocong selama sepekan, hanya sekadar iseng untuk menakut-nakuti warga sekitar dengan kostum pocongnya.

"Daripada bengong menunggu waktu melaut, saya iseng jadi pocong. Kalau sudah pukul 03.00 WIB, saya pergi ke laut cari ikan," kata Bahrul waktu itu kepada penyidik Polsek Kenjeran.

Karena keisengannya ini, pemuda yang bekerja sebagai nelayan itu terpaksa menginap sehari di sel polisi. Sebab, ulahnya banyak membuat pengguna jalan ketakutan dan terpelanting dari motornya.

Pun sama dengan aksi Fredo, Bahrul juga berpakaian serba putih lengkap dengan tali pocong. Wajahnya juga dilumuri bedak putih dan matanya dimake-up warna hitam.

"Kepiawaian Bahrul memerankan posong  tak diragukan. Dia begitu menjiwai sebagai pocong. Warga yang melihat Bahrul pun lari terbirit-birit. Apalagi Bahrul beraksi tiap pukul 02.00
WIB," terang Kanit Reskrim Polsek Kenjeran, AKP Yudo Hariyono kala itu.

Lokasi yang digunakan Bahrul untuk beraksi terkenal angker sehingga sangt mendukung permainan ini. Tahun 1987 silam, di sekitar lokasi tersebut pernah terjadi pembunuhan seorang wanita. Hingga kini banyak warga yang masih meyakini adanya hantu wanita di tempat itu. Hantu itu berambut panjang sepunggung, bajunya putih dan terlihat darah yang mengucur deras dari dadanya. Lokasi favorit yang digunakan untuk permainan ini oleh Bahrul, dkk adalah di depan balai RW III, atau persis di bawah gapura RT.

Ide bermain 'pocong' diduga mendapatkan insipirasi dari film-film Suzanna yang booming pada tahun 80-an. Saat itu  banyak anak-anak usia belasan suka bermain-main dengan kostum pocong menirukan acting Suzana.

Apalagi di daerah Banyuurip, saat itu pemukiman penduduk belum terlalu padat, sering muncul penampakan. Kawasan ini tepat untuk bermain hantu-hantuan  karena dulunya, perkampungan ini bekas "bong" atau area pemakaman China, yang dijadikan pemukiman penduduk.

Saat itu, juga sempat geger isu kemunculan pocong di lokasi yang disebut warga sekitar dengan nama "Kedukan." Karena isu itu, tokoh agama dan masyarakat berkumpul di lokasi tersebut untuk membuktikan kejadian tersebut.

Tak hanya di tempat ini, di area pemakaman yang diapit Jalan Putat Jaya dan Lapangan Buk Abang, Banyurip Kidul, juga sering muncul penampakan hantu pocong.

Salah seorang penggemar mainan tersebut, Budi, mengaku dulu akrab dengan kostum hantu pocong dan jelangkung. Karena dia yang selalu mengajak teman-teman sebayanya bermain hantu-hantuan, dan yang memerankan tokoh pocong atau jelangkung.

"Anak-anak dulu menganggap pocongan itu hantu yang lucu dan selalu menjadi cerita. jalannya lompat-lompat terus selalu bilang: culi. Anak-anak juga sering bikin parodi dengan kata: congculiden," kata Sutris menceritakan masa lalu di kampungnya.

Bahkan, di Banyuurip Lor Gg XI, ketika perayaan 17 Agustus, sering membuat pentas perjuangan yang selalu diselipi adegan pocong di tengah cerita.

"Kalau malam, lampu sedang mati berjam-jam, anak-anak bikin arak-arakan dengan kostum jelangkung keliling kampung. Dan kalau lagi iseng bikin boneka pocong di ikat di atas pohon jambu," lanjut Sutris.

Kalau ada orang lewat, masih menurut dia, tali yang mengikat tubuh pocong itu dilepas. "Sehingga boneka pocong seoalah seperti melayang di tengah gelap. Spontan saja, orang yang baru atau hendak ke musholla ketakutan dan memilih jalan lain."

Namun, permainan iseng itu sudah punah, karena anak-anak jahil di tempat itu banyak yang pindah rumah, bahkan ada yang sudah meninggal. Terlebih lagi, karena pemukiman makin padat, kesan angker di kampung itu juga sudah sirna, dan banyak kaum pendatang.

Sumber: http://www.merdeka.com

Tidak ada komentar:

Daftar Berita Terbaru

Komentar